Selasa, 13 Oktober 2026

Teladan Akhlak Rasulullah di Perang Uhud: Saat Luka Dibalas Doa Kasih Sayang

 


Teladan Akhlak Rasulullah di Perang Uhud: Saat Luka Dibalas Doa Kasih Sayang

Peristiwa Perang Uhud merupakan salah satu momen paling krusial dan mengharukan dalam sejarah Islam. Di medan perang inilah ketabahan, keberanian, dan puncak keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW diuji secara luar biasa. Di tengah kecamuk pertempuran yang dahsyat, terukir sebuah kisah tentang betapa luasnya kasih sayang beliau, bahkan kepada musuh yang sedang melukainya.

Detik-Detik Menegangkan di Medan Uhud

Pada hari Perang Uhud, pasukan Muslim sempat mengalami situasi yang sangat sulit. Dalam kekacauan tersebut, Rasulullah SAW menjadi sasaran serangan fisik dari musuh. Gigi seri (ruba'iyyah) beliau patah, dan wajah mulia beliau terluka hingga darah segar mengalir membasahi parasnya yang agung.

Namun, di tengah rasa sakit yang hebat itu, ada satu tindakan Rasulullah SAW yang membuat para sahabat terheran-heran. Beliau secara terus-menerus mengusap dan menyeka darah di wajahnya agar tidak menetes ke tanah. Sambil menyapu darah tersebut, beliau bersabda:

"Seandainya darahku sampai menetes jatuh ke bumi, niscaya azab dari langit akan turun menimpa mereka."

Begitu besarnya rasa iba Rasulullah SAW. Beliau tahu betul bahwa jika darah seorang Nabi menetes ke bumi akibat kedzaliman umatnya, kemurkaan Allah SWT bisa saja seketika membinasakan kaum tersebut. Oleh karena itu, dengan sisa-sisa tenaganya, beliau menahan agar darah mulianya tidak menyentuh tanah.

Diutus Sebagai Rahmat, Bukan Pengutuk

Melihat kondisi Rasulullah SAW yang terluka parah dan bersimbah darah, para sahabat merasa sangat sedih dan prihatin. Mereka merasa tidak tega melihat pimpinan dan kekasih Allah diperlakukan sedemikian rupa. Lantas, beberapa sahabat berkata kepada beliau:

"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau berdoa buruk (melaknat) atas mereka?"

Seandainya doa buruk itu diucapkan oleh seorang Nabi di saat terzalimi, tentu Allah SWT akan langsung mengabulkannya. Namun, apakah Rasulullah SAW melakukannya? Sama sekali tidak. Beliau justru memberikan jawaban yang sangat menggetarkan jiwa:

إنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَلَكِنْ بُعِثْتُ دَاعِيًا وَرَحْمَةً

"Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai sosok pengutuk (penyebar laknat), melainkan aku diutus sebagai penyeru kebaikan dan pembawa rahmat."

Doa Agung di Tengah Rasa Sakit

Tidak berhenti sampai di situ, alih-alih membalas dengan amarah atau kutukan, Rasulullah SAW justru mengangkat tangannya dan memohonkan ampunan serta hidayah untuk orang-orang yang telah melukainya. Beliau memanjatkan doa yang amat masyhur:

اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

"Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Beliau memaklumi tindakan keji musuh-musuhnya dengan alasan bahwa mereka melakukan hal tersebut semata-mata karena ketidaktahuan (ignorance) mereka akan kebenaran, bukan karena tulus ingin memusuhi kebaikan.

Pelajaran Penting untuk Kehidupan Kita

Kisah dari riwayat Perang Uhud ini memberikan pelajaran moral yang sangat dalam bagi kehidupan kita sehari-hari:

  1. Mengutamakan Kasih Sayang dibanding Amarah: Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk tidak mudah tersulut emosi saat disakiti, melainkan meresponsnya dengan kelapangan dada.

  2. Menjadi Pembawa Rahmat: Sebagai pengikut beliau, tugas utama kita adalah menyebarkan kebaikan dan kedamaian, bukan menyebarkan kebencian, umpatan, atau laknat.

  3. Mendoakan Kebaikan Bagi yang Berbuat Buruk: Mendoakan Hidayah untuk orang yang membenci atau menyakiti kita adalah tingkat akhlak tertinggi yang dicontohkan oleh Nabi.

Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk meneladani kelembutan hati dan keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi setiap ujian hidup.

Senin, 12 Oktober 2026

Renungan Surah Al-Hashr Ayat 19: Saat Manusia Melupakan Allah dan Diri Sendiri



Renungan Surah Al-Hashr Ayat 19: Saat Manusia Melupakan Allah dan Diri Sendiri

Dunia modern sering kali membuat kita terjebak dalam pusaran kesibukan yang tiada henti. Banyak orang yang secara finansial berkecukupan, karirnya cemerlang, dan memiliki segalanya, namun tetap merasa ada ruang hampa di dalam dadanya. Rasa asing terhadap diri sendiri dan bingung akan arah tujuan hidup menjadi fenomena yang makin sering ditemui saat ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Al-Qur'an sebenarnya telah memberikan jawaban mendasar atas fenomena spiritual ini sejak 1400 tahun yang lalu melalui Surah Al-Hashr ayat 19:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."

Makna Mendalam: Mengapa Melupakan Allah Membuat Lupa Diri?

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hukuman paling berat bagi seseorang yang sengaja berpaling dan melupakan Allah bukanlah sekadar musibah materi atau penyakit fisik. Balasan yang paling mengerikan adalah ketika Allah mencabut kesadaran hamba tersebut dari hakikat dirinya sendiri.

Lantas, bagaimana wujud nyata dari seseorang yang "lupa akan dirinya sendiri"?

  1. Lupa Tujuan Utama Penciptaan: Manusia diciptakan di bumi untuk beribadah dan menjadi pemakmur bumi (khalifah). Ketika seseorang melupakan Allah, ia akan kehilangan kesadaran akan fungsi utama keberadaannya di dunia.

  2. Lupa Menyiapkan Bekal Akhirat: Ia terlalu sibuk menumpuk harta dan mengejar impian duniawi yang sementara, hingga lupa bahwa kehidupan yang abadi memerlukan bekal amal kebaikan.

  3. Kehilangan Orientasi dan Kedamaian Batin: Hidupnya hanya menuruti hawa nafsu dan tren semata, tanpa pernah merasakan ketenangan jiwa yang hakiki.

Ketelitian Dalam Membaca dan Menuliskan Ayat

Memahami Al-Qur'an juga memerlukan ketelitian dalam berbahasa. Kata فَأَنْسَاهُمْ (fa-ansāhum) berasal dari kata ansā yang berarti "Maka Allah menjadikan mereka lupa".

Ketelitian harakat sangat penting karena perubahan tanda baca dalam bahasa Arab dapat mengubah makna tata bahasanya (Nahwu/Shorof). Kata fa-ansāhum menggunakan huruf hamzah/alif berharakat fathah, bukan kasrah (fa-insāhum). Ketepatan ini menunjukkan betapa indah dan presisinya bahasa Al-Qur'an.

Langkah Praktis untuk Kembali Mendekat

Jika saat ini kita mulai merasakan kejenuhan batin atau merasa kehilangan arah, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk kembali:

  • Membasahi Lidah dengan Zikir: Mulailah rutin membaca zikir pagi dan petang untuk menjaga hati agar tetap hidup.

  • Menjaga Shalat di Awal Waktu: Shalat adalah media komunikasi paling utama antara hamba dan Penciptanya.

  • Mengkaji Ayat dan Tafsir Al-Qur'an: Jangan hanya membaca tekstual, tetapi selami makna dan petunjuk di dalamnya.

  • Mencari Lingkungan yang Positif: Berkumpullah dengan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.

Kesimpulan

Melupakan Allah adalah awal dari kehancuran jiwa manusia. Ketika kita menjauh dari Sang Pencipta, pada hakikatnya kita sedang menyiksa dan merugikan diri kita sendiri.

Mari jadikan Surah Al-Hashr ayat 19 ini sebagai self-reminder atau pengingat diri harian. Sebelum terlambat, mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT agar hidup kembali tenang dan terarah.

Harga Kejujuran Pedagang Sejati (Kisah Imam Abu Hanifah)



Dikisahkan Imam Abu Hanifah memiliki kerjasama dagang dengan seorang laki-laki dari Kota Basroh. Beliau mengirim 70 kain sutera kepada laki-laki penjual itu dan menuliskan pesan penting: "Awas hati-hati di dalam tumpukkan kain itu ada satu kain yang ada cacatnya yaitu kain buatan Fulan. Jika engkau menjualnya hendaklah memberitahukan cacatnya tersebut kepada pembeli. " Singkat cerita, laki-laki itu berhasil menjual semua kain kiriman Abu Hanifah seharga tiga puluh ribu dirham. Lalu ia datang kepada Abu Hanifah untuk melaporkan hasil penjualannya. Abu Hanifah bertanya, "Apakah engkau memberitahu cacat kain buatan Fulan?" Laki-laki itu menjawab,"Aduh, aku lupa akan hal itu." Akhirnya Abu Hanifah mensedakahkan seluruh hasil penjualannya tersebut.

Itulah ke waro-an Imam Abu Hanifah.
Waro: menjaga kehormatan dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.

Tafsir Baidlowi Surat Yusuf Ayat 1-2

﴿الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ﴾[ يوسف: 1] ﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾[ يوسف: 2]  

Alif, laam, roo. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur-an) yang nyata (dari Alloh). [Yusuf: 1]

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur-an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. [Yusuf: 2]

﴿الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ﴾ تلك إشارة إلى آيات السورة وهي المراد بـ﴿ـالْكِتَابِ﴾ ، أي تلك الآيات آيات السورة الظاهر أمرها في الإعجاز أو الواضحة معانيها ، أو المبينة لمن تدبرها أنها من عند الله ، أو لليهود ما سألوا إذ روي أن علماءهم قالوا لكبراء المشركين سلوا محمدا لم انتقل آل يعقوب من الشام إلى مصر وعن قصة يوسف عليه السلام فنزلت: ﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ﴾ أي الكتاب . ﴿قُرْآنًا عَرَبِيًّا﴾ سمى البعض قرآنا لأنه في الأصل اسم جنس يقع على الكل والبعض وصار علما للكل بالغلبة ، ونصبه على الحال وهو في نفسه إما توطئة للحال التي هي عربيا أو حال لأنه مصدر بمعنى مفعول ، و عربيا صفة له أو حال من الضمير فيه أو حال بعد حال وفي كل ذلك خلاف . ﴿لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾ علة لإنزاله بهذه الصفة أي أنزلناه مجموعا أو مقروءا بلغتكم كي تفهموه وتحيطوا بمعانيه ، أو تستعملوا فيه عقولكم فتعلموا أن اقتصاصه كذلك ممن لم يتعلم القصص معجز لا يتصور إلا بالإيحاء .

Teks yang Anda bagikan merupakan potongan tafsir klasik untuk Surat Yusuf ayat 1 dan 2 [QS. Yusuf: 1-2]. Tafsir ini menjelaskan struktur tata bahasa (i'rab), latar belakang sejarah (asbabun nuzul), serta makna mendalam dari tujuan diturunkannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab.
Berikut adalah poin-poin penting yang disarikan dari penjelasan tafsir tersebut:
1. Makna Kitab yang Nyata (Al-Kitab Al-Mubin)
  • Rujukan Kata: Kata tilka (تلك/itu atau ini) mengacu pada ayat-ayat di dalam Surat Yusuf. Sedangkan Al-Kitab yang dimaksud di sini adalah surat itu sendiri.
  • Kejelasan dan Mukjizat: Ayat-ayat ini disebut Al-Mubin karena memiliki mukjizat yang sangat jelas, maknanya gamblang bagi orang yang mau merenungkannya, dan membuktikan secara nyata bahwa ia datang dari sisi Allah.
  • Menjawab Pertanyaan Kaum Yahudi: Tafsir ini menyebutkan riwayat latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul). Para pendeta Yahudi menyuruh pembesar kaum musyrik Makkah untuk menguji Nabi Muhammad dengan pertanyaan: "Mengapa keluarga Nabi Ya'qub pindah dari Syam ke Mesir dan bagaimana kisah Nabi Yusuf?" Untuk menjawab tantangan ilmiah dan historis inilah surat ini diturunkan.
2. Kedudukan Bahasa Arab (Qur'anan 'Arabiyya)
  • Aspek Kebahasaan: Penyebutan sebagian isi kitab sebagai "Qur'an" didasarkan pada asal kata ism jenis yang bisa mencakup sebagian maupun keseluruhan isi. Secara tata bahasa (i'rab), kata qur'anan berkedudukan sebagai hal (keterangan keadaan) yang berfungsi sebagai pengantar bagi kata 'arabiyya (berbahasa Arab).
  • Keutamaan: Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk bacaan yang terstruktur rapi dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih.
3. Tujuan dan Hikmah Utamanya (La'allakum Ta'qilun)
  • Agar Mudah Dipahami: Allah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab sebagai ilat (alasan) agar kaum tersebut—dan umat manusia pada umumnya—dapat mengerti secara utuh, memahami maknanya, serta mencerna pesannya dengan akal sehat.
  • Bukti Kenabian yang Autentik: Penggunaan akal di sini juga menuntun pada kesadaran logis: kisah sejarah yang sangat detail dan akurat seperti kisah Nabi Yusuf ini disampaikan oleh seorang Rasul (Nabi Muhammad) yang tidak pernah belajar sejarah atau membaca kitab-kitab kuno. Hal ini secara rasional membuktikan bahwa kisah tersebut tidak mungkin ada melainkan melalui jalur wahyu Ilahi.

Selasa, 30 Juni 2026

Bismillah ...

Hari ini kita awali dengan dengan penuh keyakinan pada takdir Alloh. Ingatlah: "Kadang kita merasa tertinggal, padahal Alloh Maha Mengetahui waktu yang tepat untuk takdirmu". Jangan biarkan dunia menuntut kesempurnaan; fokuslah untuk memperbaiki niat dan maksud baik dan biarkanlah Alloh yang meluruskan langkah kita.


Media Khozanaturrohmah.

Sabtu, 20 Juni 2026

Orang Yang Meninggalkan Sholat

﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ﴾ فعقبهم وجاء بعدهم عقب سوء ﴿أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ﴾ اى تركوها او اخروها ﴿وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ﴾ كشرب الخمر واستحلال نكاح الاخت من الاب والانهماك في المعاصي، وعن علي: واتبعوا الشهوات من بناء المشيد وركوب المنظر ولبس المشهور ﴿فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴾ شرا كقوله :
فمن يلق خيرا يحمد الناس أمره . . . ومن يغو لا يعدم على الغي لائما
أو جزاء غي كقوله تعالى : ( يَلْقَ أَثَامًا ) أو غيا عن طريق الجنة ، وقيل هو واد في جهنم يستعيذ منه أوديتها.
﴿إِلَّا﴾ الاستثناء ﴿مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا﴾ يدل على أن الآية في الكفرة ﴿فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ﴾ وقرأ ابن كثير وأبو عمرو وأبو بكر ويعقوب على البناء للمفعول من أدخل ﴿وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا﴾ ولا ينقصون شيئا من جزاء أعمالهم ، ويجوز أن ينصب ( شَيْئًا ) على المصدر ، وفيه تنبيه على أن كفرهم السابق لا يضرهم ولا ينقص أجورهم.
Surat Maryam Ayat 59-60 (Tafsir Baidlowi):
(Maka datanglah sesudah mereka, pengganti) lalu pengganti mereka dan datang setelah mereka itu pengganti yang jelek  (yang menyia-nyiakan shalat) maksudnya mereka meninggalkan sholat atau menunda-nunda sholat (dan memperturutkan hawa nafsunya) seperti minum khomer atau arak, menganggap halal menikahi saudara perempuan seayah, dan tenggelam dalam perbuatan maksiat. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali: "Turutilah oleh kalian hawa nafsu yaitu membangun bangunan megah, kendaraan yang tampil mengkilap dan indah, dan pakaian yang terkenal (maka mereka kelak akan menemui kesesatan) kejatahan, seperti perkataan penyair:

Barang siapa yang berbuat baik, niscaya ia akan dipuji oleh orang-orang *** Barang siapa yang tersesat, niscaya akan selalu ada baginya orang yang mencela atas kesesatannya.

(kecuali) sebagai istitsna (orang yang bertobat, beriman, dan beramal soleh) yang menunjukkan bahwa ayat tersebut merujuk kepada orang-orang kafir (maka orang-orang itu akan masuk surga) Imam Ibnu Katsir, Imam Abu 'Amar, dan Imam Ya'qub menyatakan lafadz yudkholuuna dengan mabni lil maf'ul dari lafadz adkhola (dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun) maksudnya mereka tidak akan dikurangi sedikit pun dari pembalasan amal mereka.
Boleh lafadz "syai-an" dinasabkan sebagai mashdar. Dalam ayat ini terdapat peringatan bahwa kekafiran mereka sebelumnya tidak merugikan mereka dan tidak mengurangi pahala mereka.

Jumat, 19 Juni 2026

Wajib Menundukkan Mata Dari Istri Yang Diharamkan

 

وُجُوْبُ غَضِّ الْبَصَرِ عَنِ الْمُحَرَّمَاتِ

WAJIB MENUNDUKKAN MATA DARI ISTRI YANG DIHARAMKAN

Alloh berfirman:

﴿قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾[النور: 30]

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". [An-Nur: 30]

﴿وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾[النور: 31]

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An-Nur: 31]

Apa yang telah menimpa kita sehingga hati kita mati rasa, jiwa kita menjadi tumpul, wawasan kita menjadi buta, dan hati nurani kita menjadi rusak? Kita menjadi enggan menerima nasihat atau bimbingan, dan kita telah mengesampingkan agama. Kita mendengar sabda Nabi tetapi menolak pelajaran dan peringatannya; kita mendengar ayat-ayat Al-Quran tetapi gagal mengamalkan hukum dan ketentuannya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Perkasa.

Al-Quran menyeru kepada kalian, namun kalian tidak menjawab; ia menyerukan kebenaran di telinga kalian, namun kalian tidak mendengar; ia menampakkan kebaikan di hadapan mata kalian, namun kalian tidak melihat. Al-Quran memerintahkan, dengan jelas dan tegas, agar laki-laki menundukkan pandangan mereka dari perempuan yang bukan kerabat, agar mereka menjaga kesucian mereka dari perbuatan terlarang, dan agar perempuan menutupi diri dari laki-laki yang bukan kerabat dan tidak memperlihatkan perhiasan mereka di jalanan. Apakah kita telah memperhatikan Al-Quran dan menaati perintah Yang Maha Pengasih? Tidak. Laki-laki telah meninggalkan semangat keagamaan dan kehormatan Islam mereka, membiarkan perempuan mereka keluar dengan berpakaian tidak sopan, berhias dan memakai parfum, berjalan dengan angkuh, mengedipkan mata, dan berbaur dengan laki-laki yang bukan kerabat di jalanan, sehingga merusak jiwa, merusak hati, dan membuat murka Yang Maha Mengetahui.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

اَيُّمَا اِمْرَأَةٍ اِسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلٰى قَوْمٍ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ وَكُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ.

“Siapaun pun wanita yang memakai wewangian dan kemudian melewati sekelompok laki-laki sehingga mereka mencium aromanya, maka wanita itu dianggap telah berzina, dan begitupun setiap mata yang memandangnya juga telah berzina.”

Pernyataannya: فهي زانية adalah karena dia membangkitkan hasrat laki-laki dengan parfumnya dan menyebabkan mereka memandanginya.

Pernyataannya: وكل عين زاينة berarti bahwa setiap mata yang memandang wanita asing dengan nafsu dianggap telah berzina pula.

 

Jumat, 05 Juni 2026

Barang Dagangan Alloh

 

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

“Barang siapa yang takut, dia akan berjalan pada awal malam. Barang siapa yang berjalan pada awal malam, dia akan sampai ke tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga.”

Yang dimaksud berjalan pada awal malam adalah segera melaksanakan ketaatan kepada Alloh.

Rabu, 03 Juni 2026

Sholat Diterima

 

وَاِنَّمَا تَكُوْنُ الصَّلَاةُ مَقْبُوْلَةً عِنْدَ اللهِ تَعَالٰى اِذَا اَدَّاهَا الْمُؤْمِنُ فِيْ اَوْقَاتِهَا الْمَحْدُوْدَةِ مُرَاعِيًا شُرُوْطَهَا وَآدَابَهَا الْمَشْرُوْعَةَ وَمُحَافِظًا عَلٰى مَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنْ اِخْلَاصِ النِّيَّةِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّمْجِيْدِ وَالتَّسْبِيْحِ وَالتَّحْمِيْدِ وَمِنَ الدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ وَمُنَاجَاةِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ وَاَدَّاهَا كَذٰلِكَ بِطُمَأْنِيْنَةِ حَالَ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ وَاَشْعَرَ قَلْبُهُ عَظَمَةَ الْخَالِقِ وَجَلَالَ الْمَعْبُوْدِ.

Sesungguhnya sholat itu diterima oleh Alloh apabila seorang mu’min melaksanakannya tepat pada waktunya dengan menjaga syarat dan adabnya yang telah ditentukan oleh syara’, memelihara apa-apa yang terkandung di dalamnya seperti niat yang ikhlas, bertakbir, bertamjid (mengagungkan), bertasbih, dan bertahmid, ditambah pula dengan do’a, merendahkan diri, dan bermunajat kepada Alloh yang maha mulia dan terpuji. Ia mengerjakan sholat demikian tersebut disertai dengan tuma’ninah pada saat ruku dan sujud. Hatinya merasakan kebesaran sang pencipta dan keagungan Zat yang diibadahi.

Sholat Tiang Agama

 

اَلصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ الْيَقِيْنِ وَمَصْدَرُ الْبِرِّ وَمَبْعَثُ الْخَيْرِ وَرَأْسُ الْقُرُبَاتِ وَغُرَّةُ الطَّاعَاتِ وَمَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ وَطُهْرَةٌ لِلْقُلُوْبِ مِنْ اَدْنَاسِ الذُّنُوْبِ

Sholat adalah tiang agama, cahaya keyakinan, sumber berbuat kebaikan, sumber kebaikan, pokok mendekatkan diri kepada Alloh, awal ketaatan, tempat bermunajat, sumber penyucian, dan penyucian hati dari kotoran dosa.

Selasa, 02 Juni 2026

Tentang Akhlak Mulia

 

إِنَّ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقِ اَسَاسُ هٰذِهِ الشَّرِيْعَةِ وَعِمَادُهَا ، وَغَايَتُهَا وَغَرْضُهَا وَصِفَةُ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ ، وَاَفْضَلُ اَعْمَالِ الْمُتَّقِيْنَ ، وَرِيَاضَةُ الْمُتَعَبِّدِيْنَ . وَلَمَّا سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُوْلِ اللهِ قَالَتْ : ((كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ يَرْضٰى بِرِضَاهُ وَيَسْخَطُ بِسَخَطِهِ)) رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ

Sesungguhnya akhlak yang mulia itu adalah pondasi dasar, tiang, landasan akhir, dan tujuan utama syari’at ini (syari’at Nabi Muhammad), dan sifat karakteristik pemimpin para rosul, amalan yang paling utama dari orang yang bertakwa, dan berkholwatnya ahli ‘ibadah. Ketika Siti A’isyah ditanya tentang budi pekerti Rosululloh SAW, beliau menjawab: “Budi pekerti Baginda Nabi adalah Al-Quran, beliau ridho dengan keridhoan Al-Quran dan murka dengan kemurkaan Al Qur-an”.

Akhlak Mulia Rosululloh Dalam Peperangan

 

وَلَمَّا كُسِرَتْ رُبَاعِيَّتُهُ وَشُجَّ وَجْهُهُ يَوْمَ اُحُدٍ حَتّٰى صَارَ الدَّمُ يَسِيْلُ عَلٰى وَجْهِهِ الشَّرِيْفِ ، فَصَارَ يَنْشُفُهُ وَيَقُوْلُ : لَوْ وَقَعَ دَمِيْ عَلٰى الْاَرْضِ لَنَزَلَ عَلَيْهِمُ الْعَذَابُ مِنَ السَّمَآءِ . وَشَقَّ ذٰلِكَ عَلَى اَصْحَابِهِ وَقَالُوْا : لَوْ دَعَوْتَ عَلَيْهِمْ ؟ فَقَالَ:اِنِّيْ لَمْ اُبْعَثْ لَعَّانًا ، وَلَكِنْ بُعِثْتُ دَاعِيًا وَرَحْمَةً ، اَللّٰهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَاِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ.

Ketika giginya (Rosululloh SAW) patah dan wajahnya terluka hingga darahnya mengalir di atas wajahnya yang mulia, lalu ia mengusapnya dan bersabda: Andaikan darahku jatuh menetes ke tanah, pasti adzab dari langit akan menimpa mereka. Para shohabat merasa berberat hati dengan hal tersebut. Mereka berkata: Andaikan saja Engkau mendo’akan mereka supaya celaka? Rosululloh menjawab: Aku tidak diutus untuk menjadi tukang laknat tetapi Aku diutus untuk mengajak kebaikan dan rahmat. Ya Alloh, berikan petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang tidak mengetahui.

Senin, 01 Juni 2026

Akhlak Mulia Rosululloh SAW

 Akhlak Mulia Rosululloh SAW

فَمِنْ مَكَارِمِ اَخْلَاقِهِ وَمَحَاسِنِ اَفْعَالِهِ ﷺ : اَنَّهُ كَانَ اَوْسَعَ النَّاسِ صَدْرًا وَاَصْدَقَهُمْ قَوْلًا وَاَلْيَنَهُمْ جَانِبًا، كَانَ دَائِمَ الْبِشرِ ، سَهْلَ الْخَلْقِ ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيْظِ الطَّبْعِ وَلَا صَخَّابٍ وَلَا فَحَّاشٍ وَلَا عَيَّابٍ وَلَا لَعَّانٍ ، وَلَا يُجْزِيْ بِالسَّيِئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُوْ وَيَصْفَحُ ، وَلَا يَزِيْدُهُ مَعَ كَثْرَةِ الْاَذٰى اِلَّا صَبْرًا ، وَعَلٰى اِحْتِمَالِ الْجَاهِلِ اِلَّا حِلْمًا

Termasuk dari akhlak mulia dan perilaku baik Rosululloh SAW: Ia adalah yang paling luas berlapang dada diantara orang-orang, dan paling jujur ucapannya, dan paling lembut hatinya. Beliau adalah seorang periang yang ringan wataknya, tidak bertutur kata kasar, tidak keras hati, tidak suka berteriak-teriak, tidak bertindak keji, tidak suka mengungkap aib orang lain, dan tidak mudah melaknata atau mengutuk orang lain. Beliau tidak pernah membalas suatu kejelekan dengan kejelekan lagi bahkan beliau seorang pemaaf dan pengampun. Tidaklah Alloh menambahkan kepada beliau padahal sering disakiti kecuali kesabarannya dan tidak menambahkan kepadanya dalam menghadapi orang yang belum mengetahui kecuali kemurahan hati.

Hari Jum'at Termasuk Hari Yang Paling Utama

 Hari Jum'at Termasuk Hari Yang Paling Utama

قال ﷺ: مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ قُبِضَ، وَفِيْهِ النَّفْخَةُ وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ، فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيْهِ، فَاِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ اَرِمْتَ؟ قَالَ: اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْاَرْضِ اَنْ تَأْكُلَ اَجْسَادَ الْاَنْبِيَاءِ. رواه احمد وابو داود وابن ماجه وابن حبان والحاكم وصححه.

Nabi SAW bersabda: Termasuk ke dalam hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Nabi Adam diciptakan. Pada hari Jum’at Ia diwafatkan. Pada hari Jum’at peniupan (sangkakala). Pada hari Jum’at kematian (seluruh manusia). Oleh karena itu, perbanyaklah kalian membaca sholawat kepadaku pada hari Jum’at karena sesungguhnya sholawat kalian akan dipersembahkan kepadaku. Para sahabat bertanya: Ya Rasulalloh, bagaimana bisa sholawat kami bisa dipersembahkan kepada engkau setelah engkau tiada? Beliau menjawab: Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla telah mengharamkan kepada bumi untuk memakan jasad para nabi. HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Habban, dan Al Hakim. Ia telah menshohihkannya.

Hak Orang Tua Atas Kewajiban Anak

 Hak Orang Tua Atas Kewajiban Anak

(زبدة الواعظين) يقال للوالد على الولد عشرة حقوق: الطعام ان احتاج، والخدمة ان احتاج، والاجابة ان دعا، والاطاعة ان امر غير معصية، والتكلم معه باللين دون الغلظة، وان احتاج الى الكسوة كساه ان قدر عليها، والمشي خلفه، والارضاء له بما رضي لنفسه، والاكراه له بما يكره لنفسه، والدعاء له بالمغفرة كلما دعا لنفسه

(Kitab Zubdatul Waa’idziin) Dikatakan: “Hak orang tua atas kewajiban anak ada 10 hak: (1) Anak harus menyediakan makanan jika orang tua butuh, (2) anak harus berkhidmat atau melayani jika orang tua butuh pula, (3) anak harus menjawab dengan baik jika orang tua memanggil, (4) anak menaati dan patuh jika orang tua memberi perintah yang bukan maksiat, (5) anak harus berbicara kepada orang tua dengan lembut dan bukan dengan kasar, (6) jika orang tua butuh pakaian maka anak harus memberikan pakaian sesuai dengan kemampuannya, (7) anak harus berjalan dibelakang orang tua, (8) anak harus menyenangkan orang tua sesuai dengan apa yang orang tua ridho (senang) bagi dirinya sendiri, (9) anak harus memaksa atau mencegah orang tua (dengan cara yang baik) terhadap apa yang orang tua sendiri merasa tidak suka, dan (10) anak harus mendoakan orang tua dengan pengampunan setiap kali orang tua berdo’a untuk dirinya sendiri.







Sabtu, 30 Mei 2026

Orang-orang Yang Suka Berpuasa dan Shodaqoh

وروى الترمذي عن عائشة قالت: سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن هذه الآية: ﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ﴾[ المؤمنون: 60] اهم الذين يشربون الخمر ويسرقون؟ قال: لا يا بنت الصديق، ولكنهم الذين يصومون ويتصدقون وهم يخافون ان لا يقبل منهم، اولئك الذين يسارعون في الخيرات.

Imam Turmudzi meriwayatkan hadits dari Siti Aisyah RA bahwa Ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Baginda Nabi SAW tentang ayat ini: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,” [Mu-minun: 60]. Apakah mereka itu orang-orang yang minum khomer (arak) dan suka mencuri? Beliau menjawab: Bukan, wahai putri Siddiq, melainkan mereka itu adalah orang-orang yang suka berpuasa dan bersodaqoh, namun mereka takut bahwasnya puasa dan shodaqohnya tidak diterima (oleh Alloh SWT). Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan. 



Rabu, 19 Februari 2020

Keutamaan Ilmu


وأنشدنى أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين:
Kata ulama pengarang kitab ta’lim muta’allim bahwsanya gurunya Syaikhul islam Burhanuddin menyampaikan nasihat dalam bentuk nasyid, yaitu: (dalam bahar thowil)
اِذِ الْعِلْمُ أَعْلَى رُتْبَةً فِى الْمَــــــــرَاتِبِ     وَمِنْ دُوْنِهِ عِزُّ الْعُلَى فِـى الْمَواَكـِـبِ
Ingatlah! Di saat ilmu menjadi yang paling tinggi kedudukan derajatnya; sementara selain ilmu tinggi kehormatannya hanyalah di hadapan orang-orang semata
فَذُو الْعِلْمِ يَبْقَــى عِزُّهُ مُتَضَــاعِفَـــــــا     وَذُوْ الجَهْلِ بَعْدَ الْمَوْتِ فِـى التَّيَارُبِ
Oleh karena itu, orang yang berilmu kehormatannya kekal dan berlipat sementara orang yang bodoh hanya tertimbun tanah setelah kematiannya
فَـهَــيْهَاتَ لَا يَرْجُــوْ مَـدَاهُ مَـنِ ارْتَـقَى     رُقـــــــــــــــــِىَّ وَلِىِّ الْمُـــــــــــلْكِ وَاِلَـى الْكـَـــــــتَائِبِ
Maka jauhlah orang yang tidak berharap untuk meraih tingginya kehormatan ilmu setinggi penguasa kerajaan dan pasukannya hingga batas tertinggi kehormatan ilmu
سَأُمْلِيْ عَلَيْكُــمْ بَعْضَ مَا فِيْهِ فَاسْمَعُوْا     فَفيْ حَصَــــــرٌ عَنْ ذِكْرِ كُــــــــــلِّ الْمَـــــــــــــــنَاقِبِ
Akupun akan menuliskan kepadamu sebagian kebaikan yang terkandung dalam ilmu, maka dengarkanlah! Namun dalam diriku ini punya keterbatasan untuk menyampaikan semua kebaikan ilmu tersebut
هُوَ النُّوْرُ كُلُّ النُّوْرِ يَهْدِىْ عَنِ الْعَمَى     وَذُوْ الجَـــــــــهْلِ مَرَّ الدَّهْرِ بَيْنَ الْغَــيَاهِــــــــــــــبِ
Ilmu ibarat cahaya keseluruhannya yang bisa menjadi petunjuk bagi orang yang bodoh dan tersesat bagaikan yang buta mata, sementara orang bodoh hanya melewatkan kehidupannya diantara kebodohannya itu sendiri bagaikan kegelapan
هُوَ الـذَّرْوَةُ الشَّمَاءُ تَحْمِيْ مَـــنِ الْتَجَا     إِلَيْهَــــــــــــــا وَيَمْشِى آمِـــــــــــــــنًا فِـي الـــنَّـوَائِبِ
Ilmu adalah tempat luhur ibarat gunung yang tinggi yang bisa melindungi orang yang mencari perlindungan ditempat tinggi dan bisa membuat orang berjalan dengan rasa aman dalam kesulitan
بِهِ يَنْجُوْ وَالنَّاسُ فِيْ غَفَلَاتِـــــهِـمْ     بِهِ يَرْتَجِـــــــــــيْ وَالـرُّوْحُ بَيْنَ التَّرَائِبِ
Dengan perantara ilmu orang tersebut bisa selamat dari adzab akhirat sementara manusia selalu dalam keadaan lalai, dan dengan perantaranya pula orang berharap selamat dari adzab neraka sementara ruhnya sudah berada diantara tulang-tulang dada
بِهِ يَشْفَعُ الْإِنْسَانُ مَــنْ رَاحَ عَاصِـــيَا     إِلَى دَرَكِ النِّيْـــــــــــــــــرَانِ شَـرِّ الْعَــــــــــــــــــوَاقِبِ
Dengan sebab ilmu seorang insan bisa menolong orang yang asyik dengan maksiat yang berakibat terkena adzab akhirat sebagai akibat yang seburuk-buruknya
فَمَنْ رَامَهُ رَامَ الْمَــــــآرِبَ كُلَّـــــــــــــــــــــهَا     وَمَــــنْ حَازَهُ قَدْ حَازَ كُـلَّ الْمَطَالِبِ
Barangsiapa yang menginginkan ilmu niscaya ia menginginkan segala hajat hidupnya dan barangsiapa yang merengkuh ilmu niscaya ia juga merengkuh semua apa yang dicari
هُوَ الْمَنْصِبُ الْعَالِيْ أَيَا صَاحِبَ الْحِجَا     إِذَا نِلْتَهُ هَــــــــــــــــــــــــوِّنْ بِفَــــــــــــــوْتِ الْمَـنـــــــــــَاصِبِ
Ilmu memiliki kedudukan yang luhur, wahai shohibul hija (orang yang berakal)! disaat engkau ingin meraihnya, tetapi jadi rendahlah kedudukanmu dengan sebab kehilangan kedudukan luhur itu
فَإِنْ فَاتَكَ الدُّنْيَا وَطِيْبُ نَعِيْمِـــــــــــهَا     [ فَغَمِّضْ] فَإِنَّ الْعِلْمَ خَيْرُ الْمَوَاهِبِ
Maka jika dunia dan keindahan kesenangannya meninggalkan kamu maka jangan sekali-sekali kamu menolehnya! pejamkanlah! -beralihlah ke ilmu- karena sesungguhnya ilmu adalah sebaik-baiknya pemberian