Senin, 12 Oktober 2026

Renungan Surah Al-Hashr Ayat 19: Saat Manusia Melupakan Allah dan Diri Sendiri



Renungan Surah Al-Hashr Ayat 19: Saat Manusia Melupakan Allah dan Diri Sendiri

Dunia modern sering kali membuat kita terjebak dalam pusaran kesibukan yang tiada henti. Banyak orang yang secara finansial berkecukupan, karirnya cemerlang, dan memiliki segalanya, namun tetap merasa ada ruang hampa di dalam dadanya. Rasa asing terhadap diri sendiri dan bingung akan arah tujuan hidup menjadi fenomena yang makin sering ditemui saat ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Al-Qur'an sebenarnya telah memberikan jawaban mendasar atas fenomena spiritual ini sejak 1400 tahun yang lalu melalui Surah Al-Hashr ayat 19:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."

Makna Mendalam: Mengapa Melupakan Allah Membuat Lupa Diri?

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hukuman paling berat bagi seseorang yang sengaja berpaling dan melupakan Allah bukanlah sekadar musibah materi atau penyakit fisik. Balasan yang paling mengerikan adalah ketika Allah mencabut kesadaran hamba tersebut dari hakikat dirinya sendiri.

Lantas, bagaimana wujud nyata dari seseorang yang "lupa akan dirinya sendiri"?

  1. Lupa Tujuan Utama Penciptaan: Manusia diciptakan di bumi untuk beribadah dan menjadi pemakmur bumi (khalifah). Ketika seseorang melupakan Allah, ia akan kehilangan kesadaran akan fungsi utama keberadaannya di dunia.

  2. Lupa Menyiapkan Bekal Akhirat: Ia terlalu sibuk menumpuk harta dan mengejar impian duniawi yang sementara, hingga lupa bahwa kehidupan yang abadi memerlukan bekal amal kebaikan.

  3. Kehilangan Orientasi dan Kedamaian Batin: Hidupnya hanya menuruti hawa nafsu dan tren semata, tanpa pernah merasakan ketenangan jiwa yang hakiki.

Ketelitian Dalam Membaca dan Menuliskan Ayat

Memahami Al-Qur'an juga memerlukan ketelitian dalam berbahasa. Kata فَأَنْسَاهُمْ (fa-ansāhum) berasal dari kata ansā yang berarti "Maka Allah menjadikan mereka lupa".

Ketelitian harakat sangat penting karena perubahan tanda baca dalam bahasa Arab dapat mengubah makna tata bahasanya (Nahwu/Shorof). Kata fa-ansāhum menggunakan huruf hamzah/alif berharakat fathah, bukan kasrah (fa-insāhum). Ketepatan ini menunjukkan betapa indah dan presisinya bahasa Al-Qur'an.

Langkah Praktis untuk Kembali Mendekat

Jika saat ini kita mulai merasakan kejenuhan batin atau merasa kehilangan arah, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk kembali:

  • Membasahi Lidah dengan Zikir: Mulailah rutin membaca zikir pagi dan petang untuk menjaga hati agar tetap hidup.

  • Menjaga Shalat di Awal Waktu: Shalat adalah media komunikasi paling utama antara hamba dan Penciptanya.

  • Mengkaji Ayat dan Tafsir Al-Qur'an: Jangan hanya membaca tekstual, tetapi selami makna dan petunjuk di dalamnya.

  • Mencari Lingkungan yang Positif: Berkumpullah dengan orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.

Kesimpulan

Melupakan Allah adalah awal dari kehancuran jiwa manusia. Ketika kita menjauh dari Sang Pencipta, pada hakikatnya kita sedang menyiksa dan merugikan diri kita sendiri.

Mari jadikan Surah Al-Hashr ayat 19 ini sebagai self-reminder atau pengingat diri harian. Sebelum terlambat, mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allah SWT agar hidup kembali tenang dan terarah.

Harga Kejujuran Pedagang Sejati (Kisah Imam Abu Hanifah)



Dikisahkan Imam Abu Hanifah memiliki kerjasama dagang dengan seorang laki-laki dari Kota Basroh. Beliau mengirim 70 kain sutera kepada laki-laki penjual itu dan menuliskan pesan penting: "Awas hati-hati di dalam tumpukkan kain itu ada satu kain yang ada cacatnya yaitu kain buatan Fulan. Jika engkau menjualnya hendaklah memberitahukan cacatnya tersebut kepada pembeli. " Singkat cerita, laki-laki itu berhasil menjual semua kain kiriman Abu Hanifah seharga tiga puluh ribu dirham. Lalu ia datang kepada Abu Hanifah untuk melaporkan hasil penjualannya. Abu Hanifah bertanya, "Apakah engkau memberitahu cacat kain buatan Fulan?" Laki-laki itu menjawab,"Aduh, aku lupa akan hal itu." Akhirnya Abu Hanifah mensedakahkan seluruh hasil penjualannya tersebut.

Itulah ke waro-an Imam Abu Hanifah.
Waro: menjaga kehormatan dan memelihara diri dari perbuatan maksiat.

Tafsir Baidlowi Surat Yusuf Ayat 1-2

﴿الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ﴾[ يوسف: 1] ﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾[ يوسف: 2]  

Alif, laam, roo. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur-an) yang nyata (dari Alloh). [Yusuf: 1]

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur-an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. [Yusuf: 2]

﴿الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ﴾ تلك إشارة إلى آيات السورة وهي المراد بـ﴿ـالْكِتَابِ﴾ ، أي تلك الآيات آيات السورة الظاهر أمرها في الإعجاز أو الواضحة معانيها ، أو المبينة لمن تدبرها أنها من عند الله ، أو لليهود ما سألوا إذ روي أن علماءهم قالوا لكبراء المشركين سلوا محمدا لم انتقل آل يعقوب من الشام إلى مصر وعن قصة يوسف عليه السلام فنزلت: ﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ﴾ أي الكتاب . ﴿قُرْآنًا عَرَبِيًّا﴾ سمى البعض قرآنا لأنه في الأصل اسم جنس يقع على الكل والبعض وصار علما للكل بالغلبة ، ونصبه على الحال وهو في نفسه إما توطئة للحال التي هي عربيا أو حال لأنه مصدر بمعنى مفعول ، و عربيا صفة له أو حال من الضمير فيه أو حال بعد حال وفي كل ذلك خلاف . ﴿لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ﴾ علة لإنزاله بهذه الصفة أي أنزلناه مجموعا أو مقروءا بلغتكم كي تفهموه وتحيطوا بمعانيه ، أو تستعملوا فيه عقولكم فتعلموا أن اقتصاصه كذلك ممن لم يتعلم القصص معجز لا يتصور إلا بالإيحاء .

Teks yang Anda bagikan merupakan potongan tafsir klasik untuk Surat Yusuf ayat 1 dan 2 [QS. Yusuf: 1-2]. Tafsir ini menjelaskan struktur tata bahasa (i'rab), latar belakang sejarah (asbabun nuzul), serta makna mendalam dari tujuan diturunkannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab.
Berikut adalah poin-poin penting yang disarikan dari penjelasan tafsir tersebut:
1. Makna Kitab yang Nyata (Al-Kitab Al-Mubin)
  • Rujukan Kata: Kata tilka (تلك/itu atau ini) mengacu pada ayat-ayat di dalam Surat Yusuf. Sedangkan Al-Kitab yang dimaksud di sini adalah surat itu sendiri.
  • Kejelasan dan Mukjizat: Ayat-ayat ini disebut Al-Mubin karena memiliki mukjizat yang sangat jelas, maknanya gamblang bagi orang yang mau merenungkannya, dan membuktikan secara nyata bahwa ia datang dari sisi Allah.
  • Menjawab Pertanyaan Kaum Yahudi: Tafsir ini menyebutkan riwayat latar belakang turunnya ayat (asbabun nuzul). Para pendeta Yahudi menyuruh pembesar kaum musyrik Makkah untuk menguji Nabi Muhammad dengan pertanyaan: "Mengapa keluarga Nabi Ya'qub pindah dari Syam ke Mesir dan bagaimana kisah Nabi Yusuf?" Untuk menjawab tantangan ilmiah dan historis inilah surat ini diturunkan.
2. Kedudukan Bahasa Arab (Qur'anan 'Arabiyya)
  • Aspek Kebahasaan: Penyebutan sebagian isi kitab sebagai "Qur'an" didasarkan pada asal kata ism jenis yang bisa mencakup sebagian maupun keseluruhan isi. Secara tata bahasa (i'rab), kata qur'anan berkedudukan sebagai hal (keterangan keadaan) yang berfungsi sebagai pengantar bagi kata 'arabiyya (berbahasa Arab).
  • Keutamaan: Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk bacaan yang terstruktur rapi dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih.
3. Tujuan dan Hikmah Utamanya (La'allakum Ta'qilun)
  • Agar Mudah Dipahami: Allah menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab sebagai ilat (alasan) agar kaum tersebut—dan umat manusia pada umumnya—dapat mengerti secara utuh, memahami maknanya, serta mencerna pesannya dengan akal sehat.
  • Bukti Kenabian yang Autentik: Penggunaan akal di sini juga menuntun pada kesadaran logis: kisah sejarah yang sangat detail dan akurat seperti kisah Nabi Yusuf ini disampaikan oleh seorang Rasul (Nabi Muhammad) yang tidak pernah belajar sejarah atau membaca kitab-kitab kuno. Hal ini secara rasional membuktikan bahwa kisah tersebut tidak mungkin ada melainkan melalui jalur wahyu Ilahi.

Selasa, 30 Juni 2026

Bismillah ...

Hari ini kita awali dengan dengan penuh keyakinan pada takdir Alloh. Ingatlah: "Kadang kita merasa tertinggal, padahal Alloh Maha Mengetahui waktu yang tepat untuk takdirmu". Jangan biarkan dunia menuntut kesempurnaan; fokuslah untuk memperbaiki niat dan maksud baik dan biarkanlah Alloh yang meluruskan langkah kita.


Media Khozanaturrohmah.

Sabtu, 20 Juni 2026

Orang Yang Meninggalkan Sholat

﴿فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ﴾ فعقبهم وجاء بعدهم عقب سوء ﴿أَضَاعُوْا الصَّلَاةَ﴾ اى تركوها او اخروها ﴿وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ﴾ كشرب الخمر واستحلال نكاح الاخت من الاب والانهماك في المعاصي، وعن علي: واتبعوا الشهوات من بناء المشيد وركوب المنظر ولبس المشهور ﴿فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا﴾ شرا كقوله :
فمن يلق خيرا يحمد الناس أمره . . . ومن يغو لا يعدم على الغي لائما
أو جزاء غي كقوله تعالى : ( يَلْقَ أَثَامًا ) أو غيا عن طريق الجنة ، وقيل هو واد في جهنم يستعيذ منه أوديتها.
﴿إِلَّا﴾ الاستثناء ﴿مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا﴾ يدل على أن الآية في الكفرة ﴿فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ﴾ وقرأ ابن كثير وأبو عمرو وأبو بكر ويعقوب على البناء للمفعول من أدخل ﴿وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا﴾ ولا ينقصون شيئا من جزاء أعمالهم ، ويجوز أن ينصب ( شَيْئًا ) على المصدر ، وفيه تنبيه على أن كفرهم السابق لا يضرهم ولا ينقص أجورهم.
Surat Maryam Ayat 59-60 (Tafsir Baidlowi):
(Maka datanglah sesudah mereka, pengganti) lalu pengganti mereka dan datang setelah mereka itu pengganti yang jelek  (yang menyia-nyiakan shalat) maksudnya mereka meninggalkan sholat atau menunda-nunda sholat (dan memperturutkan hawa nafsunya) seperti minum khomer atau arak, menganggap halal menikahi saudara perempuan seayah, dan tenggelam dalam perbuatan maksiat. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali: "Turutilah oleh kalian hawa nafsu yaitu membangun bangunan megah, kendaraan yang tampil mengkilap dan indah, dan pakaian yang terkenal (maka mereka kelak akan menemui kesesatan) kejatahan, seperti perkataan penyair:

Barang siapa yang berbuat baik, niscaya ia akan dipuji oleh orang-orang *** Barang siapa yang tersesat, niscaya akan selalu ada baginya orang yang mencela atas kesesatannya.

(kecuali) sebagai istitsna (orang yang bertobat, beriman, dan beramal soleh) yang menunjukkan bahwa ayat tersebut merujuk kepada orang-orang kafir (maka orang-orang itu akan masuk surga) Imam Ibnu Katsir, Imam Abu 'Amar, dan Imam Ya'qub menyatakan lafadz yudkholuuna dengan mabni lil maf'ul dari lafadz adkhola (dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun) maksudnya mereka tidak akan dikurangi sedikit pun dari pembalasan amal mereka.
Boleh lafadz "syai-an" dinasabkan sebagai mashdar. Dalam ayat ini terdapat peringatan bahwa kekafiran mereka sebelumnya tidak merugikan mereka dan tidak mengurangi pahala mereka.