Salah satu kekeliruan terbesar manusia dalam beragama adalah ketika ia mulai merasa bisa mendikte keputusan Tuhan. Tanpa disadari, banyak orang terjebak dalam pemikiran bahwa amalan ibadahnya otomatis menjamin surga dan ampunan, sementara orang lain yang terlihat berbuat dosa dipastikan berada dalam kebinasaan.
Logika ini keliru secara mendasar. Allah adalah Sang Khaliq (Pencipta) dan kita adalah makhluk (yang diciptakan). Kedudukan ini mempertegas bahwa manusia tidak akan pernah bisa menyesuaikan kehendak Allah dengan keinginan pribadinya. Justru sebaliknya, kitalah yang sepenuhnya berada dalam genggaman takdir dan kehendak-Nya.
Mari kita amati sebuah realitas: seseorang yang rajin menjalankan sholat bisa saja jatuh ke dalam lubang siksaan jika ibadahnya digerakkan oleh riya (pamer) atau rasa lebih mulia dari orang lain. Di sisi lain, seseorang yang saat ini jauh dari agama, bisa saja mendapatkan hidayah di akhir hayatnya, bertobat secara tulus, dan mendapatkan ampunan mutlak dari Allah.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an: Yaghfiru limay yashaa-u wa yu'adzdzibu may yasyaa-u—Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki.
Prinsip ini bukan untuk membuat kita malas beribadah, melainkan untuk melatih kerendahan hati. Tugas kita adalah beramal seikhlas mungkin tanpa merasa jumawa, serta memandang orang lain dengan kasih sayang dan harapan, bukan dengan prasangka buruk atau penghakiman.




