Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dinamis dan rapuh. Hari ini kita mungkin merasa kuat dalam ketaatan, rajin beribadah, dan merasa berada di jalan yang lurus. Namun, tidak ada jaminan apa pun untuk hari esok kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah SWT.
Dua figur kontras dalam sejarah Islam memberikan tamparan keras bagi ego manusia. Di satu sisi, ada Wahsyi bin Harb. Tangannya pernah berlumuran darah karena membunuh Sayyidina Hamzah, paman Nabi yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Pada masa itu, ia adalah simbol kemurkaan. Namun, takdir Allah berkata lain; ia mendapat hidayah, masuk Islam, berjuang di jalan-Nya, dan wafat dalam husnul khatimah.
Di sisi lain, ada Tsa'labah bin Hatib. Ia adalah sosok yang dulunya miskin tetapi sangat taat, bahkan dikenal sebagai ahli i'tikaf yang menghabiskan waktunya di masjid. Ironisnya, ketika Allah mengujinya dengan kekayaan dunia, ia lalai, meninggalkan sholat, enggan bersedekah, dan terjerumus dalam kesombongan. Hingga akhir hayatnya, ia terperosok ke jurang su'ul khatimah.
Kisah ini menegaskan satu hal penting: jangan pernah merasa aman dengan amalmu, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Ketaatan hari ini bukanlah tiket garansi untuk akhir hidup yang baik. Tugas kita bukanlah menghakimi masa lalu orang lain atau merasa paling suci dengan amal sendiri, melainkan terus memohon kepada Zat yang membolak-balikkan hati agar menetapkan iman kita di atas jalan-Nya hingga akhir hayat. Semoga kita semua termasuk golongan yang diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar