واما الامر بالصيغة وهو امر الحاضر فهو جار على لفظ
المضارع المجزوم
Adapun fi’il amar bish-shighot, dan fi’il amar bish-shighot
adalah fi’il amar hadir, adalah fi’il yang sejalan atau sealur dengan lafadz fi’il
mudlori’ yang dijazamkan.
فان كان ما بعد حرف المضارعة متحركا فتسقط منه حرف
المضارعة وتأتي بصورة الباقي مجزوما
Jika huruf yang ada
setelah huruf mudloro’ahnya menerima harkat, maka kamu harus menggugurkan atau
membuang huruf mudloro’ah dari fi’il mudlori’ tersebut dan kamu datangkan
bentuk fi’il mudlori’ yang ada (tersisa) setelah pembuangan tersebut dengan dijazamkan
(dan hasil akhirnya menjadi fi’il amar).
فتقول في الامر من تدحرج: دحرج-درجا-دحرجوا-دحرجي-دحرجا-دحرجن
Sehingga kamu katakan
dalam fi’il amar dari lafadz tudahriju:
dahrij-dahrijaa-dahrijuu-dahrijii-dahrijaa-dahrijna
وهكذا تقول فرح، قاتل، تكسر، تباعد، تدحرج
Demikianlah (kias
setiap huruf yang ada setelah huruf mudloro’ah dari fi’il mudlori’ itu menerima
harkat) kamu katakan (dalam fi’il
amar) lafadz farrih (dst dari lafadz tufarrihu), qootil (dst dari lafadz
tuqootilu), takassar (dst dari lafadz tatakassaru), tabaa’ad (dst dari lafadz
tatabaa’du), dan tadahroj (dst dari lafadz tatadahroju).
وان كان ساكنا فتحذف منه حرف المضارعة وتأتي بصورة
الباقي مجزوما مزيدا في اوله همزة وصل مكسورة الا ان يكون عين المضارع منه مضموما
فتضمها
Jika huruf ayang ada
setelah huruf mudloro’ah dari fi’il mudlori’ itu sukun, maka kamu harus membuang huruf mudloro’ahnya dari fi’il
mudlori tersebut dan kamu datangkan bentuk fi’il mudlori’ yang ada (tersisa)
dengan dijazamkan dan ditambahkan di awal huruf bentuk tersisa tadi Hamzah
washol dengan dikasrohkan kecuali dalam keadaan ‘ain fi’il mudlori’ dari
fi’il mudlori yang ada (tersisa) tadi didlommahkan maka kamu dlommahkan Hamzah
washolnya
تقول: انصر-انصرا-انصروا-انصري-انصرا-انصرن
Kamu katakan (dalam fi’il amar dari lafadz tanshuru):
unshur-unshuroo-unshuruu-unshurii-unshuroo-unshurna
وكذا اضرب واعلم وانقطع واجتمع واستخرج
Dan demikian pula (qiyash
setiap huruf yang ada setelah huruf mudloro’ah dari fi’il mudlori’ itu sukun)
lafadz idlrib (dst dari lafadz tadlribu), ‘ilam (dst dari lafadz ta’lamu), inqhoti’
(dst dari lafadz tanqothi’u), ijtami’ (dst dari lafadz ijtami’), dan istakhrij
(dst dari lafadz tastakhriu)
وفتحوا همزة اكرم بناء على الاصل المرفوض فان اصل
تكرم تؤكرم
Para ulama ahli shorof
memfathahkan Hamzah lafadz “akrim” karena didasarkan pada bentuk asal yang ditinggalkan
(tidak digunakan) karena sesungguhnya asal dari lafadz “tukrimu” adalah lafadz “tu-akrimu”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar